Setelah Putri kabur keluar dari rumah, berbagai macam pikiran datang menghantuinya. *“Sekejam ini kah dunia?”* batinnya.

Keesokan harinya, Putri angkat kaki dari rumah pamannya. Bersama ketiga adiknya, mereka pergi hanya bermodal tekad dan keyakinan. Mereka menyusuri setiap gang dan setiap jalan, sekadar untuk bertahan hidup dengan memunguti barang bekas. Panas dan hujan bukan lagi halangan—yang penting ketiga adiknya bisa makan kenyang.

Waktu berlalu cepat. Dua tahun sudah Putri menjalani profesi itu. Tubuh kecilnya yang selalu dibasahi keringat tak pernah lelah menelusuri jalan.

Sampai akhirnya tiba waktunya sang ayah keluar dari jeruji besi. Banyak orang mungkin mengira bahwa inilah akhir dari penderitaan Putri sebagai tulang punggung keluarga. Tetapi kenyataannya berbeda. Justru derita panjang baru akan dimulai.

Ada istilah, *“kasih sayang ibu segumpal gula, kasih sayang ayah segumpal beras.”* Tapi kenyataan tak selalu sesuai. Sang ayah bukan fokus menghidupi anak-anaknya, melainkan sibuk mencari pengganti istri yang telah tiada.

Singkat cerita, sang ayah bertemu seorang wanita yang kemudian menjadi ibu tiri bagi anak-anaknya. Sayangnya, ibu tiri tersebut hanya menerima sang ayah—tidak menerima anak-anaknya. Pernikahan tetap dilangsungkan, dan di situlah awal perpisahan saudara berempat.

Adik pertama merantau ke Ibu Kota.
Adik kedua merantau ke Kalimantan.
Adik ketiga merantau ke Indramayu.

Sementara Putri memilih menikah muda di usia 15 tahun.

Waktu terus berjalan. Rumah tangga yang Putri idamkan menjadi tempat bernaung tak berjalan mulus. Penuh liku dan batu kerikil yang menghambat. Kehamilan pun datang. Ya, Putri mengandung di usia yang masih sangat belia. Namun takdir lagi-lagi tak berpihak kepadanya. Putri kehilangan anak pertamanya pada usia kandungan tujuh bulan. Bayi itu hanya bertahan hidup selama tiga hari. Dunia terasa runtuh—gelap, sehancur-hancurnya.

Di tengah kehilangan yang begitu dalam, tak ada seorang pun yang bisa menjadi penopang untuk sekadar bersandar. Suami yang seharusnya menjadi tempat pulang justru sibuk dengan urusannya sendiri.

Setelah sepuluh tahun berusaha mempertahankan rumah tangga, akhirnya semuanya kandas.