*CAHAYA YANG TUMBUH DARI LUKA*

Dulu, ia adalah seorang gadis kecil yang periang.
Penuh tawa, penuh kasih, dan selalu berlarian mengejar mimpi dengan semangat yang tak pernah habis.
Setiap detik baginya adalah kesempatan—kesempatan untuk tumbuh, berharap, dan menata masa depan yang ia bayangkan penuh warna.

Namun hidup ternyata tak selalu seindah bayangan seorang anak kecil.

Tahun 2004 menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya.
Hari Jumat—hari yang seharusnya penuh berkah bagi banyak orang—justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Putri kecil yang baru berusia 10 tahun itu.

Pada hari itulah, ibunda tercinta pergi selamanya.
Kepergian yang begitu cepat, tanpa sempat ia peluk lebih lama, tanpa sempat ia bilang bahwa ia butuh ibunya lebih dari siapa pun.

Putri, bersama tiga adiknya yang masih sangat kecil, kehilangan cahaya yang selama ini menerangi rumah mereka.
Duka itu masih menggantung, belum kering, bahkan belum genap satu minggu…
ketika satu kabar lagi meruntuhkan dunia kecil mereka:
Ayah yang mereka cintai harus masuk ke balik jeruji besi.

Dalam sekejap, empat anak yang masih sangat belia dipaksa dunia untuk tumbuh dewasa.
Putri kecil yang baru 10 tahun tiba-tiba harus memikul tanggung jawab yang tak seharusnya menjadi beban anak seusianya.
Ia belajar menelan rindu, menahan tangis, dan berdiri tegak meski lututnya gemetar.

Namun justru dari luka itulah lahir seorang perempuan yang kuat.
Luka yang dulu menenggelamkannya, kini menjadi alasan ia terus bertahan.
Ia tumbuh menjadi sosok ibu yang mungkin “kurang beruntung” menurut dunia, tetapi sangat kaya oleh pengalaman, keteguhan, dan cinta yang tak pernah habis untuk orang-orang yang ia sayangi. Ia tumbuh menjadi cahaya.

Ini bukan sekadar kisah sedih.
Ini adalah kisah tentang keberanian seorang anak kecil yang dipaksa kehilangan, namun tetap memilih bangkit dan meneruskan hidup.